
Ada aku. Ada guci coklat tanah liat. Ada kamu.
Aku ada. Guci coklat tanah liat pun ada. Karena kamu ada.
Guci coklat tanah liat tergeletak indah di antara.
Aku memandikannya setiap hari dengan hati.
Kamu tertawa riang lepas tulus ceria.
Aku. Kamu. Bahagia.
Tanah pijakan pun berputar tanpa sadar.
Melewati suatu kala.
Memasuki masa berikutnya.
Bersua awan kelam guntur menggelegar.
Pukulan-pukulan.
Sayatan-sayatan.
Teriakan-teriakan.
Guci coklat tanah liat tergores. Retak.
Aku berusaha menahannya. Menyatukan serpihan.
Kamu terus memukuli sisi-sisi guci coklat tanah liat.
Aku kesal. Marah merah.
Dan aku membanting hancur guci coklat tanah liat.
Kalau itu yang kamu inginkan.
Melihat buraian pecahan keramik tak berdosa tercecer.
Silahkan. Nikmatilah.
Sudah tersedia di depan mata kamu.
Kalau itu yang kamu inginkan.
Apakah itu yang kamu inginkan?
Apakah kamu yakin apa yang kamu inginkan?
….
….
….
Suatu kala berjalan sangat lamban.
Sebuah masa menenggelamkan kami hening.
Kami. Aku. Guci coklat tanah liat tak berbentuk. Kamu.
Tangan kamu bertulang emosi. Berotot rindu.
Berdaging sayang. Berkulit pengharapan.
Bergetar. Halus. Pelan.
Berada di ambang keraguan.
Iya dan tidak.
Dan aku sambut dengan sentuhan selembut aku bisa.
Mengangkatnya. Menciumnya. Membelainya.
Memancarkan mentari diri.
Sayangku.
Guci coklat tanah liat ini tak berdosa.
Dia terlahir ada karena ada kita dua.
Layaknya ‘anak yang tak akan pernah terlahir’ kita.
Sangat tipis. Polos. Rapuh.
Sayangku.
Guci coklat tanah liat ini butuhkan kita.
Dia ingin hidup.
Untuk kita dua.
Dia adalah kita dua.
Dua kita adalah dia.
Guci coklat tanah liat tergeletak indah tak sempurna di antara.
Berbentuk tidak selayaknya guci. Penuh luka.
Aku memandikannya setiap hari dengan hati.
Kamu menyuntikan kekuatan dengan cinta.
Kita menghiasinya dengan warna-warna dunia.
Aku. Kamu. Bahagia.
(essay satu mata dua jiwa)
Aku ada. Guci coklat tanah liat pun ada. Karena kamu ada.
Guci coklat tanah liat tergeletak indah di antara.
Aku memandikannya setiap hari dengan hati.
Kamu tertawa riang lepas tulus ceria.
Aku. Kamu. Bahagia.
Tanah pijakan pun berputar tanpa sadar.
Melewati suatu kala.
Memasuki masa berikutnya.
Bersua awan kelam guntur menggelegar.
Pukulan-pukulan.
Sayatan-sayatan.
Teriakan-teriakan.
Guci coklat tanah liat tergores. Retak.
Aku berusaha menahannya. Menyatukan serpihan.
Kamu terus memukuli sisi-sisi guci coklat tanah liat.
Aku kesal. Marah merah.
Dan aku membanting hancur guci coklat tanah liat.
Kalau itu yang kamu inginkan.
Melihat buraian pecahan keramik tak berdosa tercecer.
Silahkan. Nikmatilah.
Sudah tersedia di depan mata kamu.
Kalau itu yang kamu inginkan.
Apakah itu yang kamu inginkan?
Apakah kamu yakin apa yang kamu inginkan?
….
….
….
Suatu kala berjalan sangat lamban.
Sebuah masa menenggelamkan kami hening.
Kami. Aku. Guci coklat tanah liat tak berbentuk. Kamu.
Tangan kamu bertulang emosi. Berotot rindu.
Berdaging sayang. Berkulit pengharapan.
Bergetar. Halus. Pelan.
Berada di ambang keraguan.
Iya dan tidak.
Dan aku sambut dengan sentuhan selembut aku bisa.
Mengangkatnya. Menciumnya. Membelainya.
Memancarkan mentari diri.
Sayangku.
Guci coklat tanah liat ini tak berdosa.
Dia terlahir ada karena ada kita dua.
Layaknya ‘anak yang tak akan pernah terlahir’ kita.
Sangat tipis. Polos. Rapuh.
Sayangku.
Guci coklat tanah liat ini butuhkan kita.
Dia ingin hidup.
Untuk kita dua.
Dia adalah kita dua.
Dua kita adalah dia.
Guci coklat tanah liat tergeletak indah tak sempurna di antara.
Berbentuk tidak selayaknya guci. Penuh luka.
Aku memandikannya setiap hari dengan hati.
Kamu menyuntikan kekuatan dengan cinta.
Kita menghiasinya dengan warna-warna dunia.
Aku. Kamu. Bahagia.
(essay satu mata dua jiwa)
