Monday, 21 January 2008

Guci coklat tanah liat


Ada aku. Ada guci coklat tanah liat. Ada kamu.
Aku ada. Guci coklat tanah liat pun ada. Karena kamu ada.

Guci coklat tanah liat tergeletak indah di antara.
Aku memandikannya setiap hari dengan hati.
Kamu tertawa riang lepas tulus ceria.
Aku. Kamu. Bahagia.

Tanah pijakan pun berputar tanpa sadar.
Melewati suatu kala.
Memasuki masa berikutnya.
Bersua awan kelam guntur menggelegar.

Pukulan-pukulan.
Sayatan-sayatan.
Teriakan-teriakan.

Guci coklat tanah liat tergores. Retak.
Aku berusaha menahannya. Menyatukan serpihan.
Kamu terus memukuli sisi-sisi guci coklat tanah liat.
Aku kesal. Marah merah.
Dan aku membanting hancur guci coklat tanah liat.

Kalau itu yang kamu inginkan.
Melihat buraian pecahan keramik tak berdosa tercecer.
Silahkan. Nikmatilah.
Sudah tersedia di depan mata kamu.
Kalau itu yang kamu inginkan.

Apakah itu yang kamu inginkan?

Apakah kamu yakin apa yang kamu inginkan?

….
….
….

Suatu kala berjalan sangat lamban.
Sebuah masa menenggelamkan kami hening.
Kami. Aku. Guci coklat tanah liat tak berbentuk. Kamu.

Tangan kamu bertulang emosi. Berotot rindu.
Berdaging sayang. Berkulit pengharapan.

Bergetar. Halus. Pelan.
Berada di ambang keraguan.
Iya dan tidak.

Dan aku sambut dengan sentuhan selembut aku bisa.
Mengangkatnya. Menciumnya. Membelainya.
Memancarkan mentari diri.


Sayangku.
Guci coklat tanah liat ini tak berdosa.

Dia terlahir ada karena ada kita dua.
Layaknya ‘anak yang tak akan pernah terlahir’ kita.
Sangat tipis. Polos. Rapuh.

Sayangku.
Guci coklat tanah liat ini butuhkan kita.

Dia ingin hidup.
Untuk kita dua.

Dia adalah kita dua.
Dua kita adalah dia.

Guci coklat tanah liat tergeletak indah tak sempurna di antara.
Berbentuk tidak selayaknya guci. Penuh luka.
Aku memandikannya setiap hari dengan hati.
Kamu menyuntikan kekuatan dengan cinta.
Kita menghiasinya dengan warna-warna dunia.
Aku. Kamu. Bahagia.





(essay satu mata dua jiwa)

Sunday, 13 January 2008

2008 dan sepuluh tahun yang lalu


Aku duduk di kamar losmen murah di Jl. Poppies II Kuta Bali. Menatap putaran baling-baling kipas angin. Yang semakin lama semakin menghipnotis. Membawaku kembali ke sepuluh tahun lalu.

Aku berusia 18 tahun. Tinggal di Surabaya. Beratku masih 51 kg. Wajahku berjerawat di mana-mana. Gigi ku sangat berantakan. Mendewakan lelaki berusia 28. Kebingungan mau masuk kuliah kemana. Atau putus pendidikan dan bekerja menjadi tukang kebun. Ya, saat itu aku kerja sambilan mengurus taman dalam gedung gubernuran untuk hidup.

Aku menatap perjalanan hidupku dalam imajinasi. Mendapatkan 200 ribu rupiah dari mama karena aku akhirnya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, walau aku tahu uang itu pinjaman dari tante, dan mama hanya memberikan pesangon itu untuk menentukan kemana langkah ku berikutnya. Dengan nekat aku melepaskan semuanya untuk ujian masuk perguruan negeri di Surabaya. Dan walaupun tidak berambisi masuk, ternyata aku di terima. Syukur Alhamdulillah. Sekolah negeri yang masih 300 ribu rupiah per semester. Dan aku tetap mengurus taman dalam gedung gubernuran.

Tidak cukup. Aku harus lakukan hal lain. Iseng-seng Bantu teman buat menyebarkan brosur. Lumayan 10 ribu buat cadangan makan. Lalu diajak teman untuk mengajar di bimbingan belajar. Per jam 10 ribu rupiah. Sebulan bisa dapat 150 – 300 ribu rupiah. Bahagia. Aku benar-benar tidak meminta mama dan papa lagi. Walaupun mereka menawarkan. Aku menolak karena gengsi ku yang tinggi dan tahu kalau uang bantuan itu pasti juga pinjaman ke orang lain. Cukup berat beban mereka. Aku harus bisa sendiri.

Jam terbang mengajarku semakin tinggi dan sampai suatu saat aku mendapatkan predikat pengajar of the month. Hasil polling dari anak-anak asuh ku. Bahagia. Walaupun aku tidak mendapatkan sesuatu berupa material. Aku sangat bahagia.

Tawaran menjadi kontribusi komik di sebuah majalah anime pun tidak aku lepaskan. Untuk beberapa edisi aku mengisi komik sisipan. Kemudian masuk ke dunia industri alas kaki. Benar-benar perjalanan jauh. Penghasilan ku pun akhirnya bisa 500 – 700 ribu rupiah per bulan.

Bekerja apapun dan bagaimana pun asal halal. Karena keegoisan. Karena aku yakin aku bisa. Karena keharusan.

Bangku perkuliahan ku… berjalan sangat lamban. Karena semua harus dibagi. Pekerjaan serabutan dan kuliah. Berat sangat berat. Sedih sangat sedih.
Bahagia sangat bahagia.

Akhirnya aku berangkat ke Jakarta. Berniat melepaskan semua beban dan berkonsentrasi bekerja. Selamat tinggal kuliah ku yang sudah membuatku muak. Dosen-dosen yang menyusahkan. 2005. Namun hanya bertahan 3 bulan dan aku harus pulaang Surabaya. Dan sahabat-sahabatku semua mendukung dan membantu agar aku kembali menyelesaikan kuliah yang menyisakan hanya Tugas Akhir itu. Dan aku berhasil lulus. Dan aku tidak bisa menyembunyikan air mata ketika aku duduk memakai toga siap untuk dipanggil menerima piagam. Dan ketika aku melihat mama dan kakak ku melambaikan tangan dari jauh. Sangat indah. Aku bisa sampai sejauh ini. Sendirian. Sebenarnya tidak sendirian. Karena doa mama dan dukungan tak terlihat dari kakak-kakakku, dan sahabat-sahabat perjuanganku di kampus, aku disini karena mereka selalu ada di belakangku.

Dan aku kembali ke Jakarta. Bertarung. Sangat keras. Aku harus bisa. Aku memang anak Surabaya udik yang kuliah sampai 8 tahun. Tampang pas-pasan. Aku bukan apa-apa. Tapi aku yakin aku tidak selamanya “bukan apa-apa”.

Dan sekarang aku kembali di Losmen murah di Jl. Poppies II Kuta Bali. Menikmati liburan ke Bali selama seminggu. Menerima telpon untuk mengatur waktu meeting dengan beberapa advertising agency untuk proyek-proyek pitching mereka. Berbelanja bagaikan orang gila di UD. Erlangga Denpasar. Nyruput Caffe Latte di Starbucks Kuta. Berbanana boat ria dan mengunjungi penakaran penyu tanpa ada beban apa pun. Yah. Aku sudah cukup melompat jauh dari 10 tahun yang lalu. Walaupun aku tahu bahwa pencapaianku ini masih jauh dari sukses. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan membiarkan tatapan merendahkan itu muncul lagi.

Aku bangga. Aku sudah mampu membuktikan diri bahwa aku bisa sendirian. Jalan ku sangat berliku tapi aku tidak akan menyerah. Dunia masih sangat luas. Impianku yang sederhana pun beradaptasi. Tidak ada yang tidak mungkin.

Resolusi 2008 : Membuka cendela dunia….