
“ Mas, jangan pakai sandal dong kalau mengajar. Memang sih mas pakai sepatu sandal semi formal, tapi lebih baik mas pakai kaos kaki hitam yang nutupin jari kaki supaya pas ibu datang gak ada teguran-teguran gak penting..”
Yah, itulah saran seorang sahabat ketika aku masih mengajar di sebuah Bimbingan Belajar. Hanya masalah jemari kaki yang terlihat. Dan sang sahabat sendiri nyata-nyata memakai sandal bertali -hak tinggi- yang mempertontonkan indah putih cantik lentiknya jemari kaki. Tapi dia adalah seorang perempuan.
Setelah menghadiri sebuah acara dengan dress-code anak sekolah, dan aku memakai seragam sekolah bercelana pendek kotak-kotak, bersama para sahabat kami menuju ke sebuah club dan sayangnya tidak dapat menembus masuk. Karena aku bercelana pendek. Dan aku melihat perempuan-perempuan masuk ke club dengan rok mini dan celana pendek, bahkan bisa dibilang sangat pendek. Yah, mereka adalah perempuan.
Perempuan yang selalu berkoar-koar akan emansipasi dan kesetaraan, tapi sekarang mengapa aku merasa seperti seorang “perempuan” yang ingin sekali berkoar-koar akan emansipasi dan kesetaraan? Akulah “perempuan masa lampau” di dunia yang dikuasai mereka, sang “lelaki masa kini”….
Dan kemudian aku terduduk di Studio 1 Djakarta Theater, di tempat duduk yang sangat ergonomis bagi audio dan visualku. Menyaksikan pemutaran film penutup JIFFEST 2007 berjudul Perempuan Punya Cerita (Chants of Lotus), film Indonesia pertama yang mendapatkan kehormatan sebagai film penutup di ajang JIFFEST, film dari-oleh-untuk wanita sang “lelaki masa kini”…
Perempuan selalu berkorban dan menjadi korban..
Perempuan selalu berkorban dan menjadi korban..
Perempuan selalu berkorban dan menjadi korban..
Dari film dimulai dan film berakhir, kesimpulan sudah dari awal bisa ditebak : Perempuan selalu berkorban dan menjadi korban. Seakan-akan sudah menjadi kutukan sejak hawa memakan buah apel pemberian ular iblis.
Dan memang 4 cerita yang di ramu oleh Melissa Karim dan Vivian idris, yang di bentuk menjadi sajian lengkap oleh 4 sutradara wanita Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony ini memamparkan kemungkinan-kemungkinan akan kenyataan-kenyataan yang memang terjadi dimasyarakat Indonesia secara blak-blakan. 4 Cerita yang bisa dirasa masing-masing memiliki akhir yang ngambang (atau yang sahabatku bilang berkesan setengah-setengah).
Film yang buruk ? Iya, itulah yang pendapat seorang sahabat, yang aku sendiri tidak perduli pendapatnya apa -karena dia adalah orang yang selalu menganggap karya anak bangsa adalah karya yang tidak bermutu dan karya anak bangsa lain sangatlah sempurna-
Film yang bagus ? Iya, karena bagaikan fiksi kehidupan dokumenter wanita Indonesia. Kenyataan pahit memang harus dirasakan karena kejujuran memang sangat menyakitkan.
Dan aku seharusnya malu karena mempermasalahkan sepatu sandal dan celana pendek ke level emansipasi..
Lampu studio menyala, aku bersama sahabat dan Dhana melangkah keluar. Mata ini berusaha menjelajahi wajah-wajah disekitar dan mencari sosok yang sebelum pemutaran film membuatku tiba-tiba menghela nafas. Mencari Aji. Dan aku menemukan dia ditengah gerombolan wartawan, aku hanya meliriknya tanpa keberanian menyapa, tanpa tahu apakah dia mengetahui keberadaanku, dan aku berjalan menjauh, dan ketika Dhana sibuk dengan HPnya yang selalu bergetar selama pertunjukan, aku menyempatkan memalingkan wajah dan menatap Aji, satu kali, dua kali, tiga kali.. Aku membencinya, aku benar-benar berusaha.. Dia masih tampak indah….. Ya ampun! Aku benar-benar “perempuan masa lampau”!!!!





















