
Sosok itu muncul di depan mata. Bening seperti bintang layar kaca. Tubuh tinggi semampai dengan kulit putih mempesona tanpa cela. Kemeja lengan pendek (yang dibuat lebih pendek dari biasanya) memamerkan bisep-trisep mungilnya dan kancing dibuka dua. Tas travelling jinjing dengan garis putih Bally diangkat dengan anggunnya. Dan dia bertemu dengan seorang bule tua. Lalu mendapatkan jeweran telinga.
Siapa dia?
Aku tidak mengenalnya. Dia hanya melintas dengan sepersepuluh detik matanya menatapku dan senyuman muncul antara ada dan tiada. Tidak ada siapa-siapa disekitar hanya aku saja. Dan aku pun membalas dengan senyuman yang sama hambarnya. Dia kembali bercakap dengan bulenya. Lalu menaruh tas dan mengambil tiket pesawat sembari melemparkan tatapan mata. Dan aku memberikan senyum cerah. Dan dia membalasnya dengan senyuman tak kalah cerah dan kedipan mata yang jelas-jelas diperuntukkan aku saja. Dan dia melangkah memasuki Bandara dengan sesekali memalingkan wajah.
Siapa dia?
Aku tidak mengenalnya. Dia hanya melintas indah. Tapi dia bukan siapa-siapa. Aku juga bukan siapa-siapa. Aku hanya lelaki yang telah memutuskan sebuah hubungan sepihak karena emosi-kebimbangan hati dan sedang berdiri di Bandara Soekarno Hatta terminal 1A menanti sang mantan terkasih datang untuk pergi kesebuah pulau penuh dosa dan ketika bertemu hanya sempat melambaikan tangan saja.
Siapa dia?
Sudah lah diam saja! Jangan banyak tanya!!
......