Dia bertanya. "Dengan menjadi gay, yakin kamu akan dicintai?"
Ingin aku tutup sepasang telinga ini untuk sesegera mungkin tak mendengarkan pertanyaan itu, tapi terlambat. Aku benci untuk membencinya. Aku pun benci kenyataan dia menanyakannya. Keraguan apakah seorang pencinta sesama jenis layak untuk bisa dicintai?
Dengan ketidakyakinanmu akan kelayakanku untuk dicintai, aku pun tidak lagi yakin bahwa dirimu layak mendapat cintaku.
untukmu -mantan dewa pujaanku, karena patungmu telah ku sirnakan dari kuil pemujaanku. Jauh.
Aku haturkan terimakasih terdalam akan kehadiranmu, yang mengalahkan cairan isotonik, teh hangat, air putih dan cairan bersoda berbagai merek dalam persaingan aku mencari pasangan hidup malam ini. Setelah kepenatan dalam menatap kotak monitor yang mendominasi 24 jam terakhir nyawaku berjalan, mengubah ulah beberapa puluh file berukuran raksasa, dan keheningan tiba-tiba di permainan bercakap dalam twitter.com.