
Menerjang temaram aspal yang hanya tersinari lampu jalanan. Langkah kaki pincang dan erangan tertahan sepoi-sepoi mengalun dalam dinginnya angin malam. Luka itu menggigit kecil di balik kulit tersobek ketika debu-debu halus terbang dan mencakar.
Aku tetap melangkah menerobos keramaian malam. Percakapan dua satpam gendut di gardu membahas kenaikan BBM. Gonggongan anjing tak terlihat terkurung pagar raksasa hitam rumah mewah bertingkat. Pedagang ayam bakar mengipasi panggangan menebar asap kenikmatan. Derum sepeda motor anak kampung congkak melintas dengan suara knalpot-nya yang tak kalah kampungan. 3 lelaki cina agak gemuk yang semuanya menggairahkan keluar dari Honda Jazz dengan tawa aura keindahan. Dan akhirnya penderitaan itu berakhir dengan duduknya diriku di singgasana, sebuah bilik meja favorit ku di Warnet QQ Setiabudi.
Semua berawal dari lamunan yang tiba-tiba muncul tentang Harun, Salah satu lelaki impian yang tinggal jauh di negeri seberang, ketika aku berada di trotoar perempatan jalan. Dan tersadar kaki-ku terkilir terjerembab dengan cantiknya menghantam aspal. Ngilu. Aku berusaha berdiri dan kembali ke posisi normal tapi pergelangan kakiku menjerit. Lirikan anggun terlempar hanya untuk memastikan apa yang ada di bawah sana atas nama kebijakan sang otak akan keselamatan seluruh warga tubuh-ku. Kulit tipis terkelupas. Aku baik-baik saja. Langkah demi langkah aku memaksa tanpa ada yang menatap perduli karena aku tahu aku sedang ada di Jakarta. Dan tangan meremas pagar trotoar karena pergelangan kakiku berdenyut dan sobekan kulit itu basah akan darah. Aku lambaikan tangan memanggil taksi bertarif lama dan aku pun terhantarkan selamat sampai di kamar.
Mungkin ini sebuah pertanda. Mungkin aku diperingatkan karena dosa nista kenikmatan yang aku buat semalam. Mungkin juga karena aku pernah memakai alasan kaki terkilir untuk bolos kerja padahal aku menemui mereka yang menawarkan janji untuk masa depan. Mungkin, mungkin dan mungkin... Terlalu banyak kemungkinan yang akan muncul memenuhi database otakku. Sayangnya kapasitas luar biasa yang sudah Tuhan berikan sudah aku partisi agak tidak terlalu banyak membuang waktu dan pikiran aku untuk berfikir tentang setiap kejadian dengan analisa fantastis. Yang pasti aku terkilir dan jatuh. Titik.
Dan aku pun menunggu sebuah koneksi dengan seorang pria yang akan memberikan aku beban tambahan dalam menghadapi minggu-minggu kedepan. Dan dimanakah dia?
Terimakasih Prof. Utonium dan Gale atas semua jasanya membantuku menempuh hari ini.
gambar : milik www.gettyimages.com
Aku tetap melangkah menerobos keramaian malam. Percakapan dua satpam gendut di gardu membahas kenaikan BBM. Gonggongan anjing tak terlihat terkurung pagar raksasa hitam rumah mewah bertingkat. Pedagang ayam bakar mengipasi panggangan menebar asap kenikmatan. Derum sepeda motor anak kampung congkak melintas dengan suara knalpot-nya yang tak kalah kampungan. 3 lelaki cina agak gemuk yang semuanya menggairahkan keluar dari Honda Jazz dengan tawa aura keindahan. Dan akhirnya penderitaan itu berakhir dengan duduknya diriku di singgasana, sebuah bilik meja favorit ku di Warnet QQ Setiabudi.
Semua berawal dari lamunan yang tiba-tiba muncul tentang Harun, Salah satu lelaki impian yang tinggal jauh di negeri seberang, ketika aku berada di trotoar perempatan jalan. Dan tersadar kaki-ku terkilir terjerembab dengan cantiknya menghantam aspal. Ngilu. Aku berusaha berdiri dan kembali ke posisi normal tapi pergelangan kakiku menjerit. Lirikan anggun terlempar hanya untuk memastikan apa yang ada di bawah sana atas nama kebijakan sang otak akan keselamatan seluruh warga tubuh-ku. Kulit tipis terkelupas. Aku baik-baik saja. Langkah demi langkah aku memaksa tanpa ada yang menatap perduli karena aku tahu aku sedang ada di Jakarta. Dan tangan meremas pagar trotoar karena pergelangan kakiku berdenyut dan sobekan kulit itu basah akan darah. Aku lambaikan tangan memanggil taksi bertarif lama dan aku pun terhantarkan selamat sampai di kamar.
Mungkin ini sebuah pertanda. Mungkin aku diperingatkan karena dosa nista kenikmatan yang aku buat semalam. Mungkin juga karena aku pernah memakai alasan kaki terkilir untuk bolos kerja padahal aku menemui mereka yang menawarkan janji untuk masa depan. Mungkin, mungkin dan mungkin... Terlalu banyak kemungkinan yang akan muncul memenuhi database otakku. Sayangnya kapasitas luar biasa yang sudah Tuhan berikan sudah aku partisi agak tidak terlalu banyak membuang waktu dan pikiran aku untuk berfikir tentang setiap kejadian dengan analisa fantastis. Yang pasti aku terkilir dan jatuh. Titik.
Dan aku pun menunggu sebuah koneksi dengan seorang pria yang akan memberikan aku beban tambahan dalam menghadapi minggu-minggu kedepan. Dan dimanakah dia?
Terimakasih Prof. Utonium dan Gale atas semua jasanya membantuku menempuh hari ini.
gambar : milik www.gettyimages.com