Monday, 14 April 2008

Piano hitam ketika makan siang


Puri Mall dengan Barbie Fairy pink tersenyum di siang hari yang diguyur hujan. Menyantap KFC kombo 1 dengan dada ayam mentok original dan sayap ayam crispy, sebongkah nasi hangat dan Pepsi dingin tanpa es. Bersama-sama menikmati makan siang dengan beberapa teman di kantor baru, sembari mendengarkan obrolan tentang pencerahan dan kepercayaan terhadap Tuhan di bangku yang dekat dengan piano.

Piano.


Piano yang sama dimainkan seseorang yang manis menggemaskan dengan suara merdu di bulan Agustus tahun 2004. Dengan wajah bulat oriental memakai setelan jas formal. Yang saat itu hanya bisa aku nikmati dari jauh, dibalik kerumunan pengunjung Puri Mall yang sedang membeludak. Di sebuah akhir pekan.


Saat itu aku menemani sang (mantan) kekasih ku mengurus pertunjukan anak-anak didiknya dalam pementasan tari balet. Yup, dia memang penari balet. Sekali melihat penampilan dia di Gedung Kesenian Jakarta. Konon setahun setelah perpisahan kami, dia terbang menjadi TKI di Paris namun kembali ke Jakarta karena cedera kaki.

So sad.

Kembali ke bulan April 2008 tanggal 14 di siang hari yang diguyur hujan. Cukup lah sedikit mengenang masa-masa indah itu. Aku kembali ke kantor, bercanda soal bengkoang, makanan Kupang dan ikan Lele. Sampai salah satu dari kami akhirnya ingin muntah.


Puri Mall. Historical. My 1st time Boyfriend in Jakarta...


Sunday, 23 March 2008

picture perfect of happiness 0.2

bendungan jebol
air tumpah meruah
berusaha melawan grafitasi bumi
tapi tak mampu
seharusnya aku yang ada disampingmu
tapi dia pantas mendapatkanmu

(from singapore with tears)


Thursday, 20 March 2008

ismael alvarez

Sebuah website seorang illustrator handal. Indah dan seksi. Baik karya-karyanya maupun dirinya sendiri.
www.ismaelalvarez.com




picture perfect of happiness 0.1


Akhirnya aku mengenalnya, kekasih dari seseorang yang ingin aku jadikan kekasihku.

Dan disinilah aku berdiri. Di sebuah bukit hijau yang segar. Menutup mata dan merasakan angin yang berhembus. Aku bahagia. Dia ternyata sudah menemukan kebahagiaannya. Aku sangat-sangat bahagia...

Aku doakan kebahagiaan itu nyata adanya di diri kalian, yang terkasih. Amien..


(from singapore with love)




Wednesday, 5 March 2008

Anak nakal masuk neraka


Suatu hari di sebuah gedung Sekolah Dasar. Seorang guru sedang menjelaskan konsep Surga dan Neraka kepada para murid. Surga adalah tempat anak-anak baik dan menurut kepada orang tua. Neraka adalah tempat anak-anak nakal.

Tiba-tiba seorang bocah bernama Ata berdiri dengan lantang dan berteriak.

"Ibuu guluu!! Tuhan jahat!
Kalo Ata udah gede,
Ata mau bom Nelaka
supaya anak-anak nakal
gak masuk nelaka
!!"




(amien)


Monday, 4 February 2008

Soekarno: Sejarah yang tak memihak


Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus.

Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya.

Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno.

Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator.

Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.


Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja,
mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan.

" Pak Karno seda " ( meninggal )


Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso.

Suasana sungguh sepi.

Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ).

Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno.

Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata , " Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO "


Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno
menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini.
Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah.

Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.

The winner takes it all.

Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah.

Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor.

Tak berapa lama datang suratdari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.


Buruburu Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian
dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.

" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi demikian Bung Karno menenangkan istrinya.


Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu
Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.

Beberapa panglima dan loyalis dipenjara.

Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London.

Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.


Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya.

Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri.

Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya.
Jenasah dibawa ke Wisma Yaso.

Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator
yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda.

Terbujur dan mengenaskan.

Hanya ada Bung Hatta! .........
dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta- yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat.

Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.


Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin ber AC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya.

Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk.

Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya.

Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia!.



Setelah itu Bung Karno diangkat.

Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah
Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.

Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator.

Walau dalam wasiatnya Bung Karno berkeinginan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor.

Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota.

Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir.


Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.


Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, " Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso.

Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban".

"Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno,
penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. "

( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )


dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga
perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal.

Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.


( Kompas 11 Mei 2006 )


Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, "Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad"


( Kompas 13 Januari 2008 )


Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan
Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan.

Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana ....

Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden


Malam semakin panas.

Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak.

Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik.

Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ?

Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki
karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.

Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.


Kesadaran adalah Matahari

Kesabaran adalah Bumi


Keberanian menjadi cakrawala

Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata


( * WS Rendra )





Renungkan lah wahai sahabat, masyarakat, dan penjilat..... renungkan lah

turn off means...



Scene 1

Di kamar kos gelap bergumullah 17an dan Beruang Kecil


BK : Kok gak tegang? Aku aja dah tegang..

17an : Ah.. mm.. eh.. gak tau..

BK : Jangan-jangan kamu...

17an: Apaan? (mulai panik)

BK : Jangan-jangan kamu ML ma orang lain yah kemarin?

17an : Apa-apaan sih!!! (bener-bener panik)

BK : Kok kamu jadi marah?! Bener yah?!!!

17an : Nah kok.. aduh.. puyeng aku.. Enggak kali beib!! Kamu itu yang parnoannya kambuh...

BK : Jadi apa dong? pasti ada alasannyaaaa...

17an : Aku gak tau.. Aku tidak selalu tahu jawaban atas semua yang terjadi..

BK : Ya udah.. lupakan...


Scene 2
Di balik selimut malam


BK : Kamu dah gak sayang lagi yah?

17an : What?!

BK : Kamu ada yang lain yah?

17an : Kamu kenapa sih beib?

BK : Ya karena pasti ada alasan kenapa kok kamu gak tegang....

17an : Beib, I love you more than 'SEX'


Gays, ada seorang teman menuliskan di status YM nya :
"Hormon itu kayak telegram, kadang dia salah ketik, horny dibilang sayang"
Aku yakin ini bukan Hormon yang bicara.....