Malam minggu itu tepat 2 minggu sebelum Q! Film Festival di mulai, aku dan Ve duduk di meja luar Burger and Grill Sarinah, menikmati paket nasi dan ayam bakar. Faisal bergabung beberapa saat kemudian bersama anak muda kurus, dan di perkenalkan sebagai Joe, yang ternyata orang Philipina. Percakapan meluncur begitu saja tentang sejarah hidup Joe dari Philipina sampai ke Jakarta. Yusuf, yang adalah kekasih Faisal, akhirnya muncul meramaikan suasana. Sedih sekali kalau mengingat masa-masa indah itu, karena kenyataannya sekarang Joe menjadi lelaki pilihan Ve, bukan aku. Andai saja malam itu aku tidak menyetujui untuk bertemu mereka, mungkin saja Ve jadi milikku, mungkin juga tetap tidak.
Malam Rabo, aku sudah memesan paket yang sama seperti 2 bulan lalu, di temani Iwan. Berbincang tentang hidup dan pergaulan. Beberapa menit kemudian Yama bergabung dan kami menyantap hidangan dengan cepat, karena mengejar premier film Suster N. Mata ku menatap meja yang dulu menjadi the last supper ku. Sedih. Tapi aku harus cepat-cepat pergi karena Adilla Dimitri sudah menunggu di Djakarta Theater 21 (berharap boleh kan? Hehehe..)
Perut lapar akhirnya menghantarkan aku dan Dodo duduk manis dan memesan menu yang sama dengan pesanan ku terdahulu di Burger and Grill Sarinah. Ini adalah kencan pertama dengan Dodo yang benar-benar kencan. Wajahnya tampan, dengan senyum manis, brewoknya lebat sekali dan aku merekomendasikan untuk sedikit memangkasnya. Sampai saat ini hubungan kami berada di track yang aman dan menyenangkan.
Dan malam pertama bulan November ini aku kembali habiskan di Burger and Grill Sarinah, bersama Iwan dan Yama, membicarakan gosip terhangat artis, membahas Lust Caution-nya Ang Lee yang kemarin malam kami tonton di EX 21. Lalu tiba-tiba aku melihat beberapa sosok yang familiar, dan Benny ada disitu, dengan baju ketat abu-abu, yang cukup indah untuk di pamerkan lengkap dengan tonjolan puting itu. Aku mengenalnya ketika aktif sebagai volunteer di Q!FF. Hubungan yang cukup dinamis, naik turun naik turun. Dan sekarang sudah kembali membaik. Gank Benny berkumpul di ujung dan membuka forum yang aku tidak begitu tertarik untuk curi-curi dengar, karena pembahasan kami bertiga juga sedang seru-serunya. Dan SMS-SMS Benny pun berdatangan, dengan flirting-flirting yang buat aku sudah lewat jaman, ajakan lanjut berdua di Burger King, yang mungkin akan berakhir di kamar kos dia. Aku sedang tidak di saat yang tepat untuk romantisme era 80’an. Dan aku pun pulang, menghabiskan malam dengan memutar DVD Brothers and Sisters.
Selamat datang di Burger and Grill Sarinah. Dan ternyata telah menjadi salah satu tempat yang memiliki sejarah tersendiri dalam hidup ku. Dengan menu makanan dan minuman yang biasa dengan harga yang masih masuk akal, dengan bangku-bangku nya yang mengingatkan masa-masa sekolah di salah satu Sekolah Madrasah di Surabaya, dengan lagu-lagu sang legendaris John Lenon dan kawan-kawannya, dengan suasananya yang cukup tenang karena berada di pojok belakang gedung Sarinah, dengan kamar kecil nya yang menyeramkan jauh dibelakang gedung, dengan air hujan yang turun dan udara malam yang dinginnya, dengan senyuman ramah waiters dan pineapple juice hambarnya.
Malam Rabo, aku sudah memesan paket yang sama seperti 2 bulan lalu, di temani Iwan. Berbincang tentang hidup dan pergaulan. Beberapa menit kemudian Yama bergabung dan kami menyantap hidangan dengan cepat, karena mengejar premier film Suster N. Mata ku menatap meja yang dulu menjadi the last supper ku. Sedih. Tapi aku harus cepat-cepat pergi karena Adilla Dimitri sudah menunggu di Djakarta Theater 21 (berharap boleh kan? Hehehe..)
Perut lapar akhirnya menghantarkan aku dan Dodo duduk manis dan memesan menu yang sama dengan pesanan ku terdahulu di Burger and Grill Sarinah. Ini adalah kencan pertama dengan Dodo yang benar-benar kencan. Wajahnya tampan, dengan senyum manis, brewoknya lebat sekali dan aku merekomendasikan untuk sedikit memangkasnya. Sampai saat ini hubungan kami berada di track yang aman dan menyenangkan.
Dan malam pertama bulan November ini aku kembali habiskan di Burger and Grill Sarinah, bersama Iwan dan Yama, membicarakan gosip terhangat artis, membahas Lust Caution-nya Ang Lee yang kemarin malam kami tonton di EX 21. Lalu tiba-tiba aku melihat beberapa sosok yang familiar, dan Benny ada disitu, dengan baju ketat abu-abu, yang cukup indah untuk di pamerkan lengkap dengan tonjolan puting itu. Aku mengenalnya ketika aktif sebagai volunteer di Q!FF. Hubungan yang cukup dinamis, naik turun naik turun. Dan sekarang sudah kembali membaik. Gank Benny berkumpul di ujung dan membuka forum yang aku tidak begitu tertarik untuk curi-curi dengar, karena pembahasan kami bertiga juga sedang seru-serunya. Dan SMS-SMS Benny pun berdatangan, dengan flirting-flirting yang buat aku sudah lewat jaman, ajakan lanjut berdua di Burger King, yang mungkin akan berakhir di kamar kos dia. Aku sedang tidak di saat yang tepat untuk romantisme era 80’an. Dan aku pun pulang, menghabiskan malam dengan memutar DVD Brothers and Sisters.
Selamat datang di Burger and Grill Sarinah. Dan ternyata telah menjadi salah satu tempat yang memiliki sejarah tersendiri dalam hidup ku. Dengan menu makanan dan minuman yang biasa dengan harga yang masih masuk akal, dengan bangku-bangku nya yang mengingatkan masa-masa sekolah di salah satu Sekolah Madrasah di Surabaya, dengan lagu-lagu sang legendaris John Lenon dan kawan-kawannya, dengan suasananya yang cukup tenang karena berada di pojok belakang gedung Sarinah, dengan kamar kecil nya yang menyeramkan jauh dibelakang gedung, dengan air hujan yang turun dan udara malam yang dinginnya, dengan senyuman ramah waiters dan pineapple juice hambarnya.