Saturday, 17 November 2007

Stroberi jadi coklat ?


Pagi ini aku melaksanakan tugas yang sudah menjadi keharusan setelah sarapan di hari libur, bertapa diatas dudukan toilet, dan sekarang sambil membaca Graphic Novel Buddha buku ke 7. Sayup-sayup terdengar suara seksi Pasha Ungu menyanyikan lagu “Disini Untukmu”, sekejab kemudian sang Buddha aku tinggalkan tertutup dalam tumpukan lembaran-lembaran bergambar dan mulai berfikir..


Seorang wanita akan sangat shock apabila mengetahui kalau lelaki pujaannya adalah pencinta sesama jenis. Dan aku akan tertawa getir menyaksikan sang wanita tersobek-sobek hatinya dengan kekecewaan dan ketidakberdayaan, lalu terkadang aku juga terbawa akan kegalauan mereka karena aku memiliki sisi wanita (Hello, I’m gay anyway!).


Tapi, apakah yang akan aku rasakan bila yang terjadi sebaliknya?

Misalnya, ternyata pasanganku selama ini ternyata mencintai wanita layaknya pria normal, dan meninggalkan aku untuk cinta sejati! Apakah aku akan shock? Apakah aku akan menerima? Apakah aku hanya akan tertawa betapa lucunya cara dia bercanda? Apakah aku akan menuduhnya mencari alasan untuk memutuskan hubungan?


Semua ini gara-gara film Coklat Stroberi (lagu dari Ungu “Disini Untukmu” adalah salah satu OST dari film ini). Kemarin malam aku baru beli DVD nya sebagai hidangan hiburan bermalam minggu (yang pertama kali) hanya berdua saja dengan (terkasih) Dhana. Bercerita tentang cinta segitiga, melibatkan sepasang gay yang masih sangat muda (Nesta-Ali) dan seorang gadis (Key). Dengan ending bahwa Nesta akhirnya kembali mencintai seorang gadis manis Key dan meninggalkan Ali.


Selama ini aku memiliki pendapat bahwa apabila seorang lelaki sudah bisa menyukai lelaki lainnya seperti halnya mencintai wanita, dia tidak akan bisa kembali. Apa selama ini aku salah? Ataukah memang sebenarnya film ini adalah film profokasi buat para gay bahwa kita bisa kembali menjalani hidup normal?


Tidak terima!

Tidak terima!

Pokoknya tidak terima!!

Hal itu tidak akan pernah terjadi!!!


Tanpa alasan, dengan berdasarkan feeling yang kuat dan pengalaman hidup (yang tidak seberapa banyak), aku akan tetap Tidak Terima. Seperti halnya para orang tua yang baru saja mengetahui anaknya Gay dan berusaha dengan segala cara untuk menyadarkan sang anak yang (mereka percayai sedang) berhalusinasi atau mabuk atau kemasukan setan.


Dan sekarang aku ragu. Karena aku meyakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Buktinya kaum Gay ada di dunia ini walaupun dulu di yakini sebagai ketidakmungkinan, bahkan dosa!


Aku pun mengakhiri pertapaan pagi ini dan membersihkan diri. Terkadang tidak berfikir lebih nikmat dibanding berfikir. Hehehehe…



Friday, 16 November 2007

Last Caution


Airmata tidak mengalir deras..
Tidak seperti ketika aku menyaksikan pertengkaran 2 sejoli di layar bioskop..
Ketika aku (Tang Wei) masih bernama Wong Chia Chi..

Airmata tidak mengalir deras..
Tidak seperti ketika aku terbawa emosi dalam aksi panggung drama, bersama Kuang Yu Min (Wang Leehum), sehingga membawa semua penonton dalam ombak patriotik..

Airmata tidak mengalir deras..
Tidak seperti ketika aku berganti nama menjadi Mrs. Mak yang harus merelakan keperawanan untuk menjerat Mr. Yee (Tony Leung), orang kuat yang mendukung pendudukan Jepang, dan ternyata dia malah pergi ke Hongkong, dan aku menyaksikan kebodohan-kebodohan jiwa muda kami yang penuh ambisi perjuangan dan berakhir pembunuhan..

Airmata tidak mengalir deras..
Tidak seperti darah yang mengucur dari kepala tertembus peluru dan tubuh yang tergeletak di jalanan, ketika Shanghai semakin terpuruk, ketika aku tidak lagi meneruskan kuliah malah belajar bahasa Jepang, ketika untuk beras merah pun di jatah, ketika Kung hadir lagi untuk sebuah permintaan : menyelesaikan misi (yang dulu) tertunda..

Airmata tidak mengalir deras..
Tidak seperti ketika Mr. Yee berhasil merenggut tubuh ku, menarik rambutku, melemparkanku, menindihku dan menyetubuhiku..

Airmata tidak mengalir deras..
Bahkan tidak sebanyak yang tidak sengaja menetes dari mata Mr. Yee, ketika aku menyanyikan lagu cinta di sebuah restoran Jepang, entah apakah karena terharu dengan nyanyian dan tarianku, atau karena sadar bahwa kekuasaan Jepang di China semakin lama semakin menyurut..

Airmata tidak mengalir deras lagi..
Ketika aku menatap wajah Kuang yang masih keras, dan teman-teman kelompok drama panggung ku dulu yang ternyata selalu ada di sekitarku..
Ketika aku menatap hamparan jurang yang ada di depanku, sangat gelap, sangat dalam..
Ketika aku sadar bahwa ajalku sudah dekat, dengan tubuh yang bersimpuh, terikat, menatap kegelapan, merasakan sesuatu akan menembus..

Airmata tidak mengalir deras lagi..
Tidak sederas airmata Mr. Yee di kamar yang aku biasa tiduri di lantai atas rumahnya...



Pemain : TONY LEUNG, JOAN CHEN, LEE-HOM WANG, TANG WEI
Sutradara : ANG LEE
Penulis : WANG HUI LING, JAMES SCHAMUS, EILEEN CHANG (STORY)
Produser : ANG LEE, WILLIAM KONG, JAMES SCHAMUS
Produksi : FOCUS FEATURE



Wednesday, 14 November 2007

lelaki hujan-ku


Kami memandang ke luar cendela sambil berpelukan. Kami. Ya, kami, aku dan Dhana. Ketika Jakarta di guyur hujan dan angin hebat, setelah rentetan petir menggelegar dahsyat, menumbangkan banyak pohon dan sebuah billboard "Film Get Married" di perempatan sebelum terminal blok M.

Waktu menggulung terbalik dan aku yang masih berumur belasan sedang berjalan di pematang sawah di belahan kota Surabaya yang masih hijau. Hujan turun dan aku berlarian berkejaran dengan Askar, seorang sahabat di SMP, anak saudagar Indo-Pakistan berpostur tinggi besar dan sekujur tubuh yang berbulu . Dia adalah Lelaki Hujan-ku, karena dengan dia lah hujan-hujan menjadi memiliki arti. Hujan menghantarkan kami akan suka cita dan sedih duka. Hujan adalah saksi bisu akan cinta (pertama) ....

Hujan adalah romantisme klasik

Sudah lama tidak bersua dengan Askar. Kunjungan dia terakhir ke rumah ku ketika aku sudah semester 2 di jaman perkuliahan, dengan membawa kabar akan menikah secepatnya dengan seorang gadis dari kota Malang.

Aku semakin mempererat pelukan, membagi hangat tubuh dan cinta kasih, menatap wajah Dhana dan kami pun berciuman. Aku sangat bahagia.




Monday, 12 November 2007

diam menerawang


Kelu dalam menguntai kata-kata indah. Yang aku ingat hanyalah senyuman wajahnya, hangat tubuhnya, lembut bibirnya. Dan ketika dunia kembali terang dalam kenyataan, dia membuatku semakin lemas.....

Dan tiba-tiba tirai tertutup dalam panggung drama ku, tidak lagi aku melihat Aji, Aaron, Ve, Alex, Dodik, dan semua bayang-bayang masa lalu yang selalu membuat ragu langkahku. Aku hanya melihat sosok beruang kecil itu...

Apakah aku........


Sunday, 11 November 2007

kami tertawa dan dia merona


Bulu : Sedih sekali, tadi ada seseorang yang nelpon dari HP Yadi dan nanya siapa aku, lalu ditutup..
17an : Hah ? Maksudnya ? siapa ? kok...
Bulu : Aku juga bingung, aku telpon balik kok gak diangkat-angkat.. jadi pusing aja, kok begini? Ada apa ini?
17an : Kamu dah telpon ke nomer HP satunya? Karena mungkin kayak kasus temen kantor ku yang HP nya hilang, yang mencuri itu menelpon ke beberapa nomer penting di phone book dia..
Bulu : Suara banci kayak gitu, berarti dia homo dong.. Itu mungkin pacar gelap Yadi kali..
17an : Hush...

---
Beberapa teman muncul dan bergabung
membuka sebuah pembahasan tentang rencana ke Bali di Hot Planet Sarinah,
suatu malam ketika langit Jakarta kembali menangis,
seakan ikut sedih seperti apa yang Bulu rasakan
---


17an : Bulu, Yadi kan punya banyak nomer... 3 kalo gak salah, kamu simpen semua?
Bulu : Iya di HP LG shine..
17an : Yang di Ben-q ?
Bulu : Cuman satu, yang default phone dia.. yang selalu dia pasti bawa
17an : Yang pas kamu di telpon itu dia pakai nomer yang mana ?
Bulu : Pakai yang Mentari.. Aku hapal aja nomer nya..
17an : Yakin tuh nomer Yadi ?
Bulu : Yakin!! Hapal luar kepala beneran..
17an : Berapa sih nomernya ?
Bulu : 0815xxxxx...
17an : Aku cek dulu yah....

---
Beberapa teman yang tadi sudah bergabung

masing-masing tanpa di komando cek di HP masing-masing,
di ikuti senyuman dan tawa tertahan,
dan pertahanan jebol!
Kami tertawa!!
---


17an : Jangan sok hapal deh, itu nomer HP si Joni yang paling baru...
Bulu : Apaaa??!!! BANCIII ITU!!!! AWAS YAAAAAHH!!!!!

---
Beberapa teman yang tadi sudah tertawa semakin tertawa,
dan aku tersenyum mereda dan menatap bulu dengan terkesima,
akhirnya aku bisa melihat sisi wanita Bulu, yang panik dan terganggu,
merasa tidak aman, merasa sedih dan penuh kekecewaan,
takut kehilangan sesuatu yang berharga, menjadi berlebihan.
Tanpa perlu mengucap, aku bisa dapat merasakan
bahwa Bulu akhirnya terbukti sangat menyayangi Yadi,
walaupun dia terus menyangkalnya
---


Saturday, 10 November 2007

beruang kecil yang (sepertinya) lucu



Mungkin karena aku berkenalan dengan dia di Heaven Club, dimana dentuman musik menghajar detak jantung dan nadi, dimana hanya segelintir cahaya penerangan berwarna warni yang bergerak dinamis, dimana Cupid mencekoki diriku dengan 4 spot Tequila dyang membuat semua terasa gempa.

Yup, aku berkenalan dengan seorang beruang kecil bernama Dhana, dari abang mungil yang sudah aku kenal puluhan abad yang lalu. Dan Tequila mempermudah segalanya. Bermula dari gigitan jeruk yang berakhir dengan ciuman yang panjang dan membuai, yang sayangnya aku salah karena ciuman itu berlanjut terus, berdiri, terduduk, tertidur, menindih, bibir ini melekat memagut. Bibir yang enak untuk di kulum karena tebal menggemaskan.

Seakan lupa bahwa 4 jam sebelumnya aku bercerita kepada Yama dan Iwan tentang bagaimana manisnya Dodik dengan kiriman makan sore, telpon-telpon manis dan SMS-SMS pelipur lara, masakan indomie telor double di pagi hari, pernyataan cinta dalam lagu Ruth Sahanaya.

Seakan lupa bahwa 1,5 jam sebelumnya hati ini sedikit sebal karena kehadiran orang lama yang berkarakter keras kepala dan menganggap semua orang bodoh karena (dikira) mempercayai semua kebohongannya. Dan malam itu dia membawa kakek-kakek ke Heaven Club. Hello.. It's Gay Club, bukan Panti Jompo!

Seakan lupa bahwa 30 menit yang lalu Alpha boy menanyakan perihal hubungan aku dengan Aji, yang aku menjawabnya dengan "no comment" dan dia tidak percaya karena dia mendapatkan informasi dari orang yang sangat terpercaya, dan yang aku (dulu) percaya, sangat tidak dimaafkan... Aku bukan artis! For God Shake!!

Seakan lupa bahwa 1 jam yang lalu aku sedikit kebingungan tidak jelas karena ternyata Ve muncul bersama pinoy, sang kekasih, dan the whole Bear gank nya. Hati ini masih belum bisa menerima walaupun harusnya aku sudah bisa menerima dan memang aku tidak berhak untuk tidak menerima..

Seakan lupa bahwa 2 jam yang lalu aku menemui pinoy Nissan Teana yang memasang muka kecut-asam-asin karena aku tidak membalas SMS dia yang menanyakan apakah aku akan datang ke Heaven malam itu, dengan alasan pulsa habis, dan dia bilang baik-baik saja, melantai berdua untuk beberapa hembusan nafas dan kembali bergabung dengan gerombolan ekspatriat chinese-nya..

Tapi aku ingat besok aku akan datang lagi ke Dharmawangsa Square untuk bisa dapat menemui wajah Aji dengan senyuman cerahnya, sorot mata antagonisnya, bibir mungil dengan sejuta sensasi ketika dia berkata-kata. Pungguk ini masih saja mengharapkan bulan..

Dan pagi ini aku melihat betapa lucu nya wajah Dhana, bentuk wajah bulat, bibir tebal, tertidur pulas di sampingku. Dia masih sangat muda. Apakah aku berhianat terhadap cinta tulus Dodik? Apakah aku berhianat terhadap kecemburuan pinoy Nissan Teana yang dari awal sudah di sepakati bahwa hubungan kami hanya sebatas sex? Apakah aku berhianat terhadap altar Aji yang kubangun di kamar?

Sudah lah..
Aku hanya merindukan Aji.....
Sangat merindukan Aji.


Friday, 9 November 2007

Dia bawa anak!



Dan duduk lah (mereka yang mengaku) Azhari bersaudari di pojok Ohlala dekat pintu, dengan kartu yang jarang sekali terlihat di mainkan tergeletak di meja. Skip-Bo.

Ayu Azhari malam itu, seperti biasa, tampil mempesona. Di balut kaos Giordano hitam tipis, sepasang puting tampak menonjol sempurna, celana pendek berbahan jeans vintage dan loafer coklat muda yang terlihat sangat manis membungkus jemari kaki. Dengan cekatan dia membagikan kartu Skip-Bo sebanyak 3 tumpuk masing-masing 20 lembar, tapi tatapan matanya tetap lincah berlompatan menyapu puluhan pria-pria (yang sebagian besar adalah penyuka pria juga) di penjuru cafe.

" Girls, arah jam 2 pakai kaos coklat.. nilai 7," Ayu mengambil salah satu dari 3 tumpukan itu dan mengocoknya lagi. Permainan kartu Skip-Bo pun bersaing dengan permainan Ohlala Idol. Memberi penilaian terhadap semua laki-laki yang melewati mereka.

Rahma Azhari yang selalu tampil ala eksekutif muda, baju kerah dan celana kain yang licin rapi jali, jaket kulit coklat yang panas dan sepatu Prada bokap, tak lupa sasakan rambut setinggi satu meteran yang selalu membuat dia kesusahan sendiri ketika berada di Busway, menoleh dan melempar mata angkuhnya ke sosok yang di maksud Ayu. Bibir nya pun mengerucut bagaikan lubang pantat yang sedang merekah, yang berarti signal buruk.

" Next, aku cuma kasih 2, itu pun karena kasihan.." seraya menghembuskan asap rokok layaknya mucikari stress.

Sarah Azhari mengocok tumpukan yang dia pilih dan mengembalikan lagi di meja, dia ambil 5 kartu dari tumpukan sisa yang di letakkan di tengah-tengah meja. Tubuh yang sudah mulai membesar itu di balut kaos putih Quicksilver hasil hunting pesta diskon 80% di Pasaraya Grande. Jam Levi's putih, yang sepertinya seluruh ABG di dunia memakainya, melingkar di lengan kiri. Bercelana pendek kebanggaan dan sepatu Converse seri Weapon warna putih-kuning-ungu yang sudah mengelupas dimana-mana. Dibalik 5 kartu yang membentuk kipas, mata sipitnya menatap pria yang di maksud Ayu.

" Nice one, 8 deh.." ujar Sarah datar tanpa ekspresi.

" Selera kalian tidak berubah yah.. oldies abies.." Rahma menghisap batang rokok Capri dengan lembut. Mengamati 5 kartu di tangannya, dan bibirnya kembali mengerucut bagaikan lubang pantat yang sedang merekah. Kartunya jelek.

" Selera oldies sih gak papa, dari pada wajah oldies," celutuk sarah yang dengan lincah memainkan kartu dengan lancar. Ayu pun tersedak karena hasrat tawanya muncul di saat bersaman dia meminum teh peppermint-nya.

" Sialan. Jam 7 dari arahku, pakai kaos hijau gelap dan botak dan tua dan gendut, kesukaan kalian... aku kasih 3 aja karena wajahnya pasti ketika muda sangat-sangat tampan," Rahma mengambil gelas plastik berisi Coca-Cola dan 2 irisan lemon.

" Nilai 9.. Wow... love that one," Ayu menggumam jaim karena tidak ingin orang-orang di sekitar mereka tahu apa yang sedang di percakapkan.

" 9,5 almost perfect.." Sarah mematikan kartu dan membiarkan Rahma bermain. Mata Sarah menatap tajam ke lelaki bernilai almost perfect itu, lebih dalam, lebih detail. Tangan lelaki itu, jemari ber cincin kawin. Dan beberapa menit kemudian seorang wanita cantik berjilbab menggamit tangan lelaki itu.

" Sial. 9,5 kali 3 ... Ayu, dia beristri," Sarah berucap sambil minum fresh milk. Mata Ayu pun menatap terbelalak kaget. Dia melirik dan akhirnya mengangguk setuju. Penilaian akan di kalikan 3 bila ternyata dia beristri.

" Sarah, kali 3 lagi.. istrinya hamil, perhatikan perutnya," sahut Ayu setelah menatap beberapa menit ke sosok berjilbab itu. Memang cantik.

Perempuan berjilbab dan lelaki berpoint 9 bagi Ayu itu tiba-tiba berhenti, dari belakang tampak wanita Jawa muda berpakaian putih-putih menggendong seorang balita dan memberikannya ke sang lelaki. Dia menggendong balita itu. Ayu dan Sarah menatap tak berkedip dan terdiam. Permaianan untuk sementara terhenti.

Kenapa Lelaki yang menggendong anak sangat menggairahkan ?!!

Rahma yang membelakangi lelaki itu bingung. Dia menatap kedua saudarinya aneh...

"Jangan-jangan....." Dia berputar dan melihat seorang lelaki dengan aura kebapakan tingkat tinggi menimang anaknya. Matanya terbelalak. Dan kembali di posisi semula dengan kartu mati. Dan ke 3 saudari itu seakan mengheningkan cipta sejenak.

" Di kali 3 lagi bukan?" Ujar Ayu.

Dan semua mengangguk.

Dan semua tersenyum.

Dan kembali bermain kartu.


Rumus : (nilai awal) x 3 (kalau beristri) x 3 (kalau istri hamil) x 3 (kalau sudah punya anak)
Permainan yang tidak penting tapi cukup menyenangkan. Hehehehe....