
Pagi ini aku melaksanakan tugas yang sudah menjadi keharusan setelah sarapan di hari libur, bertapa diatas dudukan toilet, dan sekarang sambil membaca Graphic Novel Buddha buku ke 7. Sayup-sayup terdengar suara seksi Pasha Ungu menyanyikan lagu “Disini Untukmu”, sekejab kemudian sang Buddha aku tinggalkan tertutup dalam tumpukan lembaran-lembaran bergambar dan mulai berfikir..
Seorang wanita akan sangat shock apabila mengetahui kalau lelaki pujaannya adalah pencinta sesama jenis. Dan aku akan tertawa getir menyaksikan sang wanita tersobek-sobek hatinya dengan kekecewaan dan ketidakberdayaan, lalu terkadang aku juga terbawa akan kegalauan mereka karena aku memiliki sisi wanita (Hello, I’m gay anyway!).
Misalnya, ternyata pasanganku selama ini ternyata mencintai wanita layaknya pria normal, dan meninggalkan aku untuk cinta sejati! Apakah aku akan shock? Apakah aku akan menerima? Apakah aku hanya akan tertawa betapa lucunya cara dia bercanda? Apakah aku akan menuduhnya mencari alasan untuk memutuskan hubungan?
Semua ini gara-gara film Coklat Stroberi (lagu dari Ungu “Disini Untukmu” adalah salah satu OST dari film ini). Kemarin malam aku baru beli DVD nya sebagai hidangan hiburan bermalam minggu (yang pertama kali) hanya berdua saja dengan (terkasih) Dhana. Bercerita tentang cinta segitiga, melibatkan sepasang gay yang masih sangat muda (Nesta-Ali) dan seorang gadis (Key). Dengan ending bahwa Nesta akhirnya kembali mencintai seorang gadis manis Key dan meninggalkan Ali.
Selama ini aku memiliki pendapat bahwa apabila seorang lelaki sudah bisa menyukai lelaki lainnya seperti halnya mencintai wanita, dia tidak akan bisa kembali. Apa selama ini aku salah? Ataukah memang sebenarnya film ini adalah film profokasi buat para gay bahwa kita bisa kembali menjalani hidup normal?
Tidak terima!
Tidak terima!
Pokoknya tidak terima!!
Hal itu tidak akan pernah terjadi!!!
Tanpa alasan, dengan berdasarkan feeling yang kuat dan pengalaman hidup (yang tidak seberapa banyak), aku akan tetap Tidak Terima. Seperti halnya para orang tua yang baru saja mengetahui anaknya Gay dan berusaha dengan segala cara untuk menyadarkan sang anak yang (mereka percayai sedang) berhalusinasi atau mabuk atau kemasukan setan.
Dan sekarang aku ragu. Karena aku meyakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Buktinya kaum Gay ada di dunia ini walaupun dulu di yakini sebagai ketidakmungkinan, bahkan dosa!
Aku pun mengakhiri pertapaan pagi ini dan membersihkan diri. Terkadang tidak berfikir lebih nikmat dibanding berfikir. Hehehehe…





