
Kami memandang ke luar cendela sambil berpelukan. Kami. Ya, kami, aku dan Dhana. Ketika Jakarta di guyur hujan dan angin hebat, setelah rentetan petir menggelegar dahsyat, menumbangkan banyak pohon dan sebuah billboard "Film Get Married" di perempatan sebelum terminal blok M.
Waktu menggulung terbalik dan aku yang masih berumur belasan sedang berjalan di pematang sawah di belahan kota Surabaya yang masih hijau. Hujan turun dan aku berlarian berkejaran dengan Askar, seorang sahabat di SMP, anak saudagar Indo-Pakistan berpostur tinggi besar dan sekujur tubuh yang berbulu . Dia adalah Lelaki Hujan-ku, karena dengan dia lah hujan-hujan menjadi memiliki arti. Hujan menghantarkan kami akan suka cita dan sedih duka. Hujan adalah saksi bisu akan cinta (pertama) ....
Sudah lama tidak bersua dengan Askar. Kunjungan dia terakhir ke rumah ku ketika aku sudah semester 2 di jaman perkuliahan, dengan membawa kabar akan menikah secepatnya dengan seorang gadis dari kota Malang.
Aku semakin mempererat pelukan, membagi hangat tubuh dan cinta kasih, menatap wajah Dhana dan kami pun berciuman. Aku sangat bahagia.
Waktu menggulung terbalik dan aku yang masih berumur belasan sedang berjalan di pematang sawah di belahan kota Surabaya yang masih hijau. Hujan turun dan aku berlarian berkejaran dengan Askar, seorang sahabat di SMP, anak saudagar Indo-Pakistan berpostur tinggi besar dan sekujur tubuh yang berbulu . Dia adalah Lelaki Hujan-ku, karena dengan dia lah hujan-hujan menjadi memiliki arti. Hujan menghantarkan kami akan suka cita dan sedih duka. Hujan adalah saksi bisu akan cinta (pertama) ....
Hujan adalah romantisme klasik
Sudah lama tidak bersua dengan Askar. Kunjungan dia terakhir ke rumah ku ketika aku sudah semester 2 di jaman perkuliahan, dengan membawa kabar akan menikah secepatnya dengan seorang gadis dari kota Malang.
Aku semakin mempererat pelukan, membagi hangat tubuh dan cinta kasih, menatap wajah Dhana dan kami pun berciuman. Aku sangat bahagia.