
Setelah mampir di [http://mumualoha.blogspot.com/2007/11/get-fucked.html] dan [http://mumualoha.blogspot.com/2007/09/opera-jawa-surat-kesedihan-garin.html], akhirnya aku benar-benar merasa muak terhadap lalat-lalat dunia perfilman Indonesia. Aku tidak akan menyentuh para pekerja seni yang berusaha berkarya demi pengembangan intelektual diri dan memperpanjang hidup sejarah perfilman lokal. Tapi aku benci mereka, lalat-lalat yang merasa dirinya bak burung-burung bangkai yang dengan gagah dan garangnya mengincar-memangsa karya-karya film yang semakin lama semakin banyak bermunculan, tapi tetap saja mereka hanya lalat-lalat yang berterbangan dengan suara yang mengganggu pendengaran, menempelkan kaki-kaki kecilnya yang bikin kulit gatal, dan sangat ingin sekali aku jerat di raket listrik tekanan tinggi sehingga dia mati terbakar listrik. MATI!
Komentar sana komentar sini membedah sedetail-detailnya sebuah film (yah, hanya bisa komentar), menertawakan kebodohan para pekerja film (yah, hanya bisa menertawakan), yang mungkin berakhir dengan pengharapan orang-orang yang mendengarkannya akan terpesona (betapa pintarnya dia) betapa luas wawasan dia. Atau mengharapkan bahwa masyarakat Indonesia akan berterimakasih akan kritikannya yang (masih dalam konteks pengharapan) akan menjadi cambuk untuk perkembangan perfilman Indonesia menjadi lebih baik ? Tapi maaf, buat aku, mereka tetap lalat-lalat penyebar penyakit yang berseru untuk “Bikin film bagus, atau jangan bikin sama sekali”. Yup, seperti dia yang hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa, dan menuntut undangan gala premiere (dasar pengincar gratisan dan gak modal), lalu buru-buru mengambil goody bag (bahkan mengambil 2), lalu di luar studio kembali menertawakan semua detail kesalahan dan ketidak-masuk-akalan film dan pulang dengan tidur pulas. Tidur terus sana. MATI SEKALIAN!!
Komentar sana komentar sini membedah sedetail-detailnya sebuah film (yah, hanya bisa komentar), menertawakan kebodohan para pekerja film (yah, hanya bisa menertawakan), yang mungkin berakhir dengan pengharapan orang-orang yang mendengarkannya akan terpesona (betapa pintarnya dia) betapa luas wawasan dia. Atau mengharapkan bahwa masyarakat Indonesia akan berterimakasih akan kritikannya yang (masih dalam konteks pengharapan) akan menjadi cambuk untuk perkembangan perfilman Indonesia menjadi lebih baik ? Tapi maaf, buat aku, mereka tetap lalat-lalat penyebar penyakit yang berseru untuk “Bikin film bagus, atau jangan bikin sama sekali”. Yup, seperti dia yang hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa, dan menuntut undangan gala premiere (dasar pengincar gratisan dan gak modal), lalu buru-buru mengambil goody bag (bahkan mengambil 2), lalu di luar studio kembali menertawakan semua detail kesalahan dan ketidak-masuk-akalan film dan pulang dengan tidur pulas. Tidur terus sana. MATI SEKALIAN!!
SUPPORT LOCAL MOVIE!!
Jangan pernah menyerah untuk berkarya, dan tetap belajar dari kegagalan, karena tanpa kegagalan kita tidak akan bisa menciptakan karya besar. SEMANGAT!!!