
Urat nya bakso urat emang enak, tapi kalau urat itu di pakai pas ngomong? Capek deh. Dan itu lah yang aku hadapin beberapa waktu terakhir ini, dan semua bermuara dari klien yang semakin lama semakin brengsek.
Mereka memiliki banyak kepala yang semuanya punya porsinya masing-masing untuk semakin memporak-porandakan pertahanan kesabaran kami. Ada apa sih ini ? Account Executive dengan job-req Roro Jongrang-nya (semalam jadi) yang terkadang perubahannya gak penting atau malah rombak ulang layout design. Permintaan exercise sudah mulai biasa ditelinga - dalam hati perasaan aku tidak kerja di Celebrity Fitnest atau Fitnes First deh, tapi kenapa di suruh exercise terus? Apa karena aku terlihat gemuk? –
Dan dari sisi lain, pria kecil yang selalu aku panggil om sudah bermetamorfosa dari kucing manis menjadi singa betina binal jablay belum makan sebulan. Refisi-refisi yang never ending dari klien telah merubah susunan genetikanya dengan sedemikian rupa. Sial, dia berbicara seakan-akan kerjaan ku tidak beres, plin-plan, lalu berbicara tentang sistem birokrasi pekerjaan dan lain-lain. Aku tidak bodoh untuk tahu inti ucapan dia, dan itu lah yang bikin suasana hari-hariku jadi gloomy.
Berjalan menelusuri sistem kerja, yang seharusnya bertanggung jawab adalah Account Executive, selaku ujung tombak perusahaan terhadap klien, bagaimana mereka menjual karya kita dan menggiringnya sampai akhir. Dan tampaknya level bertarung mereka jauh dibawah klien dan akhirnya kalah! Menuruti apa yang klien ingin kan… Kalau begitu kenapa klien tidak bikin in house aja dari pada capek-capek outsource ?! Dan akhirnya bentrok antara aku dan Acount Executive semakin memanas. Dan aku tidak suka itu!!
Mereka adalah teman-teman ku juga, mereka juga capai, mereka juga bekerja keras, mereka juga merasakan ketidak-beresan ini. Dan aku sayang mereka.
Pagi ini aku pun memasang status di Yahoo Messenger :
I love my team and I want to keep it that way. So client, BACK OFF!!