
“Kapan kawin, le ?”
(Kalau saja Bunda tahu, kemarin aku sudah kawin)
Dan waktu berkumpul bersama Bunda, Kakak Pertama dan Mbak ipar berubah menjadi neraka hati. Mood lebaran yang harusnya penuh kebersamaan dan kebahagiaan keluarga (minimal hati kecilku masih memiliki harapan untuk semua itu) menguap sudah.
Aku pikir dengan Bunda ke Jakarta, dia akan lebih memfokuskan ke penyesuaian diri di lingkungan rumah Kakak Pertama dan keluarga-keluarga Bunda yang memang banyak sekali di Jakarta dan sekitarnya (Bekasi, Bogor dan Serpong). Ternyata salah! Dan semakin terasa berada di gurun pasir yang berterik matahari, yang berangin panas melempar butiran pasir panas ke tubuhku yang tanpa helai apapun, ketika bibir mungil Bunda menambahkan..
“Mas-mas mu kan sudah berkeluarga semua, tinggal kamu. Makanya Bunda pengen banget tinggal sama kamu aja, supaya kamu ada yang ngeramut (merawat) ..”
What!!!
Dan kembali untaian kata-kata sebagai jawaban keluar dengan lancar, sudah hafal di luar kepala sejak 3 tahun ini. Dan tentu saja ada penambahan karena Bunda berimprovisasi dengan pengharapan barunya itu
“Belum ada pacar gimana mau kawin (memang belom ada sih karena selalu gagal dan, sekali lagi, aku kemarin sebenarnya sudah kawin, Bun). Kawin itu kan bawa anak orang, tanggung jawab gede lo, gak cuman modal barang gede (ini tambahan kok, gila aja aku ngomong gini ke Bunda).. Belum siap aja karena belum sukses (yang beberapa menit kemudian aku jelaskan definisi sukses dari anaknya yang paling bungsu ini, ambisi dan target-target yang harus diraih, sampai aku bisa merasa sukses, yang semakin menciutkan harapan Bunda untuk cepat-cepat nambah seorang cucu lagi).”
“Dan kalau Bunda mau tinggal sama si imut-imut ini, kasihan Bunda nya.. Wong kalau pulang malam banget, bahkan bisa-bisa pagi (tapi yah gak semuanya karena lembur kerjaan sih, kadang yah dari nongkrong ma temen, atau dari menggapai langit ke tujuh, bingung? Hihihi). Banyak lembur nya, Bun (mengatasnamakan lembur untuk pembenaran, maap yah tapi bagaimana lagi, penunjang fakta aja). Nyampe kos langsung bobo, besoknya bangun siang langsung ngantor. Jadinya Bunda kan tambah kesepian, kan kasihan.. Lagian sekarang kan kos nya bareng temen supaya bisa lebih murah (Aduh, ini white lies kan ? Ini white lies kan? Gak papa kan ? cari dukungan nih!!!).”
Dan untuk sementara semua mereda. Dan Kakak Pertama menatap takjub, dia pasti bangga dengan kehebatan adiknya ini.. hihihihi… Dan kemudian Abdullah, temen kampus, ngajak ngumpul di Plaza Semanggi buat membagikan undangan pernikahannya. ARGH!!!