
La Vie en Rose. Film ini di putar sebagai penutup dari Europe on Screen Festival. Berlangsung semalam, 2 November 2007, di Djakarta Theater XXI.
Berbincang-bincang dengan sahabat-sahabat media, pecinta film dan pekerja film, berusaha survive dari ketiak-ketiak para ekpatriat Eropa, menikmati jamuan camilan-camilan yang sangat menggugah selera. Dan sebuah gossip terlontar dengan mulus dari mulut manis Yama.
“Aku tadi ngerjain Aji. Aku bilang ada temen kantor ku yang tipe dia banget yang lagi nyari pacar, dan temen ku itu si Hiro! Hehehehe… dan kata Aji pas liat Friendster nya Hiro, dia antusias banget!! Mauuuuu!! dia bilang.. Hahahaha.. Gilaaaa!!!”
Dan Yama tertawa, dan Iwan tertawa, dan aku (berusaha) tertawa.
Hiro, dengan photo di Friendster.com yang sangat macho. Tampang sebenarnya oke banget, karena masih masuk tipe ku. Stocky bulat. Tipe Aji juga sebenarnya. Tapi ke bawelan dia, bagaikan tante-tante kesepian dengan gaya sok asik dan sok nyambung tapi dia gak tau apa-apa. Ratu lebay deh.
Sedangkan Aji, adalah (mungkin) segalanya. Pertemuan yang tidak sengaja dan berlanjut dengan pertemuan-pertemuan indah yang tidak akan bisa aku lupakan. Percakapan garing yang membuka kan dunia baru itu, photo berdua itu, pelukan itu dan (tentu saja) ciuman itu, kehadiran di malam itu, keringat itu, teriakan-teriakan itu, nafsu itu…
Iwan dan Yama duduk berderetan dengan teman-teman Cineplex-nya dan aku tidak kebagian tempat duduk. Bergabung lah aku dengan Mahmud dan Izard. Dan film pun di putar.
Menceritakan perjalanan hidup seorang icon legendaries Perancis : Edith Piaf. Masa kecil yang terlunta-lunta, berpindah tangan dari ibunya ke tante nya, lalu di ambil sang ayah, di titipkan ke neneknya yang berbisnis hotel dan pelacuran. Bertemu Titine dan pelacur-pelacur lainnya yang menyayanginya. Masa-masa penuh kasih sayang, walau dia ditimpa musibah dengan mata nya yang meradang dan tidak bisa melihat, dan Titine dengan penuh kasih sayang merawat dan menemani nya.
MAUUUUUUU!!!
Satu kata yang menyesakkan. Menggangguku menikmati keunikan hidup Edith Piaf. Terlintas wajah Aji, dengan senyuman khas dengan deretan gigi indahnya, bau parfumnya, pelukan hangatnya.. Dan tentu saja (yang membuat semua semakin sesak) dia bilang “Mauuuuuuuuu” buat dikenalin ke Hiro?!!! Padahal selama ini dia semakin menghilang dari peredaran dengan dalih sibuk. Ya tentu saja dia sibuk, aku sangat memahaminya. Tapi bayang-bayang disela kesibukannya Aji menemui Hiro dan mereka bercinta. TIDAAKK!!!!... oke, mungkin aku berlebihan…
Sang ayah pun datang mengambil Edith dan Titine pun meronta-ronta tidak terima. Dan kehidupan pun kembali berjalan di sirkus bersama ayah nya yang adalah seorang conturnist, yang tidak bertahan lama karena kekeraskepalaan ayah Edith, mereka berjuang sendiri di jalanan, dan di sinilah akhirnya Edith mulai bernyanyi. Indah sekali..
Hiro dan Aji. Hiro dan Aji. Tuhan ini tidak adil. Jelas-jelas aku lebih berhak atas Aji dibanding Hiro. Aku lebih muda, wajah bulat badan stocky, straight act, karir juga sudah lumayan, tidak pernah macam-macam atau menuntut apa-apa, mandiri, punya talenta seni (yang masih berhubungan pekerjaan Aji). Dan aku single! Hiro tidak! Imaginasi ku sudah sangat berlebihan….. Uuuuuhh!!
Usia 20 tahun dengan postur anehnya, Edith memiliki wajah yang manis. Berjuang dengan Momone, sang sahabat, memukau pejalan kaki dengan suaranya yang indah. Sampai akhirnya bertemu Louis Leplee. Dimulailah perjalanan karier Edith Piaf, jatuh bangun, pembelajaran hidup, berlian semakin diasah dalam segi penampilan dan olah vokal, kematian papa Leplee, jatuh cinta dengan Marcel Cerdan, karir yang menanjak, kehilangan sang kekasih. Dan ajal…
Film ini sangat indah, dengan cerita yang berlompatan masa, twisting tapi penonton masih bisa mengikuti jalan ceritanya. Sangat indah. Dengan alunan musik tempo dulu dan suara klasik Edith Piaf. Sangat Indah. Dan semua bulu kuduk berdiri ketika menikmati scene malam terakhir Edith Piaf, dengan potongan-potongan masa lalu. Sangat Indah..
Salut untuk sang Sutradara, Olivier Dahan, yang sudah mampu membawa aku kedalam dunia Edith Piaf, juga Marion Cotillard pemeran Edith Piaf yang tampil habis-habisan. Dan yang paling kinclong dan penghibur kekangenan dan kecemburuan hati ini, adalah kehadiran sosok petinju kekasih Edith, Marcel Cerdan. Wajah tampan dan senyuman memikat, tubuhnya yang tinggi besar berbulu menggairahkan, benar-benar sosok gagah tampan yang klasik, berasal dari aktor Perancis Jean-Pierre Martins.

Dan aku pun pulang dengan berusaha menenangkan diri. Belum tentu juga Aji akan ketemu Hiro, belum tentu juga mereka akan bercinta..