Thursday, 8 November 2007

"Nissan Teana" ku


Itulah julukan yang aku sematkan pada sosok pria berkepala botak, kulit bersih, senyum cerah. Satu-satunya (sampai saat ini) orang yang dengan berani menggangguku yang sedang bersandar, berusaha menahan kantuk dan pusing akibat beberapa minuman (yang aku tidak tahu apa nama dan isinya) dari teman-teman sepermainan ketika bertandang di Heaven Club, di salah satu malam minggu. Berjalan di depanku dan tiba-tiba tangannya menggamit sang mini-me yang tertidur pulas di balik jeans, dan dengan jantannya menatapku dengan menempatkan persis disamping kepalaku satu lengannya menahan keseimbangan tubuh.

"I like you, do you like me?"

Like, aku suka sekali dengan kata itu. Sederhana dan membuat aku sadar bahwa dia tidak mabuk, dan bahwa dia bukan tipe orang yang melankolis. Like, kata yang akhirnya menggiringnya melantai dan meliuk-liuk dalam desing suram Benny Bennasi. Like, kata yang membawa diriku-dirinya terbang lepas bebas dan menukik jatuh kedalam lembah nikmat. Dua kali.

Tubuhnya sangat smooth, menggemaskan. Tidak kurus dan tidak gemuk. Pas. Ekspresi yang sama ketika mata ku menoleh mengikuti sebuah Nissan Teana berjalan di depan gedung kantor. Anggun, cantik, mulus. Keindahan yang tidak akan bisa kumiliki, atau lebih tepat tidak mau ku miliki. Hanya mengagumi dan menikmati, tanpa hasrat memiliki. Sama sekali.

Puas akhirnya aku bisa mengendarai Nissan teana ini, karena keindahannya dan karena maksud lain. Dia adalah pinoy (orang Philipina), warga negara yang saat ini aku benci. Sangat bodoh memang, tapi karena dendam karena lelaki idaman ku di rebut oleh seorang pinoy, dan akhirnya aku menghajar pinoy ini sembari berkata dalam hati:

"See Ve, I fuck a pinoy, and this pinoy's waaaaayyyyyyy more beautiful than yours!!"

Dan semalam aku menatapnya lagi, dan tersenyum pahit, dia berbaring di tempat tidur dan mengemis-ngemis untuk kepuasan birahi. What a bitch.. (bukan dia, tapi aku)